Terbaru

Ancaman Tidak Patut dari Pengacara Lamborghini Maut

Kecelakaan Lamborghini Manyar Kertoarjo Surabaya.
Ada maklumat di Jawa Pos (3/12) yang menimbulkan kegusaran para wartawan dan pekerja media.Yaitu pengumuman dari sebuah kantor pengacara tentang kecelakaan lalulintas (laka) yang terjadi pada 29 November 2015, dimana melibatkan sebuah mobil Lamborghini yang menurut pemberitaan media dikemudikan oleh Wiyang Lautner.

Kegusaran itu timbul karena isinya mengandung ancaman atau intimidasi kepada media cetak, media elektronik (termasuk pengguna sosial media), masyarakat (perusahaan/ individu) untuk tidak memberikan pemberitaan/pernyataan yang negatif tanpa didasari dengan bukti-bukti yang kuat. Bilamana dapat merugikan kliennya, maka kantor pengacara tersebut akan menempuh jalur hukum.

Pengumuman yang dimuat Jawa Pos
Menurut Trimoelja D.Soerjadi, advokat kawakan Surabaya dalam pernyataannya di sebuah media sosial (4/12), hal semacam itu tidak patut karena mengancam kebebasan menyatakan pendapat yang dijamin UUD 1945 pasal 28E (3).

Di samping itu sejauh wartawan telah menjalankan tugasnya sesuai dg kode etik jurnalistik, UU no.40/1999 tentang Pers, terutama cek & ricek serta telah cover both sides dan kepada subyek berita yang merasa dirugikan telah diberi hak jawab, wartawan tidak bisa dituntut, baik perdata mau pun pidana.

Apalagi pengumuman tersebut juga mengandung penyesatan. Di situ dikatakan bahwa antara klien dengan korban telah terjadi kesepakatan, bahwa kejadian tersebut adalah musibah dan terjadi perdamaian.

Setiap laka, apalagi sampai ada yang tewas, jelas merupakan musibah, dan hampir pasti ada pihak yang salah atau lalai. Kalau korban tewas adalah pihak yang salah, maka urusan selesai. Tetapi kalau pengemudi yang salah atau alpa dan ia bisa dimintai pertanggungjawaban pidananya (tidak ada alasan pemaaf atau pembenar), perdamaian itu tidak menghapus tindak pidana yang terjadi, sebab kealpaan menyebabkan orang tewas bukan merupakan delik aduan.

Laka y
ang melibatkan sebuah mobil mewah Lamborghini ini telah menarik dan menjadi sorotan publik, media & para netizen, di Surabaya khususnya. Media, baik cetak mau pun elektronik sebagai tanggung jawab publiknya, punya kewajiban terus memantau kasus laka ini. Terutama untuk menjamin dan memastikan bahwa polisi dalam melakukan penyidikan tidak berlaku diskriminatif. Polisi harus profesional, transparan dan akuntabel. Jangan karena kecelakaan ini akibat kesalahan anak keluarga kaya, kasusnya kelak tenggelam hilang begitu saja, tidak jelas kelanjutannya.

Foto: Istimewa
close
Banner iklan disini