Terbaru

14 Turis Amerika Eksplore Budaya Banyuwangi di Desa Kemiren

Banyuwangi menjadi kota tujuan wisata bagi turis asing

BANYUWANGI,majalah.online – Banyuwangi kedatangan 14  wisatawan dari Amerika. Selama dua hari (29 – 30/8), para bule yang tergabung dalam kelompok The Friendship Force of Columbia Cascade, USA itu meng-eksplore Budaya Banyuwangi di Desa Adat Kemiren.


The Friendship Force adalah suatu komunitas yang tujuannya menciptakan perdamaian dan kesepahaman antara orang-orang dengan budaya yang berbeda. Caranya adalah merasakan tinggal dan hidup dengan mereka selama beberapa waktu untuk tahu lebih dalam tentang masyarakat tersebut. Komunitas ini digagas oleh Presiden Amerika ke -39, Jimmy Carter pada tahun 1977 dan masih exist hingga sekarang.

Saat mengunjungi Desa Kemiren, para turis tampak begitu menikmati beragam kekhasan desa  tersebut. Salah satunya adalah Pamela Brown. Wanita berusia 50 tahun tersebut antusias mengungkapkan kegembiraannya. “Ini pengalaman yang luar biasa. Masih tradisional sekali, tapi kaya makna. I love their local wisdom,”ujar Brown.

14 Turis Amerika saat melakukan explore di Desa Kemiren

Kedatangan Brown dan rekan-rekannya  disambut arak-arakan Barong Kemiren. Mereka kemudian diajak menyusuri pematang sawah dengan dengan ditemani pelestari budaya Osing asal Desa Kemiren, Sucipto. Meski sampai terjatuh-jatuh di tanah persawahan yang berair, tapi wajah mereka tidak menampakkan rasa capek. “It’s amazing. Lots of fun,”  tawa  Brown sambil tak henti mengambil gambar lewat kameranya.

Diajak berkeliling sawah, Brown yang juga datang bersama suaminya, Wayne Potter, merasa sangat senang. “Saya jadi mengenal sawah lebih dekat. Ini menyenangkan, memberi inspirasi dan pengetahuan baru bagi saya pribadi,” tutur novelisyang sedang menyelesaikan project  novelnya tentang seorang gadis China dan keluarganya, lengkap dengan latar belakang mereka sebagai petani.
Selain itu mereka juga diajak menikmati kudapan khas Desa Kemiren di tengah kebun dan rindangnya pepohonan. Makanan khas Osing seperti kue klemben, tape ketan yang dibungkus daun kemiri dan lepet mereka santap habis. Untuk minumannya pun mereka diajari menenggak langsung dari kendi. Karena sebagian besar  tak terbiasa minum dari kendi, pakaian mereka sampai basah tersiram air.

Tak hanya itu, mereka juga menikmati makan siang berupa pecel pitik, lalapan dan sambal. Makan siang itu dikemas lewat acara tradisi selamatan desa yang diberi nama tumpeng srakad (tumpeng yang berisi sayur mayur rebus). Sebelum selamatan dimulai, peserta dipakaikan kain panjang atau jarit bagi yang wanita, dan udeng bagi yang laki-laki.

Lewat selamatan itu, mereka diajak langsung memaknai filosofi tumpeng srakad yang bermakna hilangkan tingkah laku yang jelek. Setelah itu mereka makan bersama dengan tangan berlaukkan pecel pithik. Rasa pecel pithik yang sedikit pedas, tak memupus keinginan mereka untuk berhenti makan. “It’s really spicy, but  tasty. I like the chicken flesh,” cetus salah seorang peserta.

Setelah makan siang, hiburan khas masyarakat Kemiren seperti angklung paglak  ditampilkan, menyusul tari gandrung yang menjadi welcome dance bagi setiap tamu yang datang ke Banyuwangi.
Mereka  ikut menari gandrung bersama saat selendang dikalungkan penari gandrung ke leher mereka. Menariknya, walau pun dengan gaya yang sedikit kaku dan mengundang tawa masyarakat sekitar yang ikut menyaksikan, mereka tampak bersemangat mengikuti gerak tari penari gandrung aslinya.
Puas menari, mereka  diajak membuat makanan khas rakyat berupa pisang goreng dan kue cucur. Satu per satu mereka mencoba membuatnya. Setiap ada yang matang, langsung tandas dicicipi. “Saya suka pisang goreng. Tempo hari pernah mencoba di Solo, rasanya manis. Pisang goreng disini juga tidak kalah enak,” kata mereka. 

Usai membuat pisang goreng dan kue cucur, para turis diajak merasakan sensasi menyangrai kopi secara tradisional. Meski sampai berkeringat terkena hawa panas dari tungku, mereka tetap antusias. “Kapan lagi bisa begini,” kata mereka cekikikan.

Rombongan turis Amerika ini berkunjung ke beberapa destinasi wisata dan budaya selama di Banyuwangi. Antara lain Museum Blambangan, Klenteng Hoo Tong Bio, berkunjung ke Desa Adat Kemiren, dan melepas tukik di Pantai Boom.

Tahun ini,  anggota The Friendship Force Columbia- Cascade yang terdiri dari 300 club  memilih Indonesia di top three choices. Alasannya karena Indonesia kaya budaya, penduduknya ramah dan dinilai highly educated (berpendidikan tinggi). Selain itu juga karena presiden mereka, Obama punya ikatan sejarah dengan Indonesia. Ada 4 kota yang dipilih yakni Solo, Surabaya, Banyuwangi dan Bali. Mereka berada di Indonesia selama 3 minggu, mulai dari 26 Agustus hingga 6 September mendatang.(Humas)


close
Banner iklan disini