Terbaru

Misteri di Balik Indahnya Pemandangan Jembatan Gladak Perak

 

Jembatan baru Gladak Perak yang membentang 130 meter di atas sungai Besuk Sat Kabupaten Lumajang.

 

 

Lumajang,majalah.online- Gladak Perak atau Piket Nol bagi masyarakat Lumajang dan Malang bukanlah tempat asing. Jembatan megah ini menjadi penghubung utama Lumajang-Malang yang topografinya memang bergunung dan berbukit. Dibalik jalanan  yang penuh kelokan maut, terhampar indah Samudera Indonesia dan sejuknya hawa pegunungan di lintasan jalur selatan Jawa ini.


Letak Jembatan Gladak Perak berada di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.  Dibangun pada tahun 1925 pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Salah seorang insinyur pribumi yang turut membangun Jembatan Gladak Perak itu adalah Ir Soekarno Presiden RI pertama. Mengenai asal muasal nama Gladak Perak terdapat banyak versi, entah mana yang benar. Ada yang mengatakan, nama Gladak Perak berasal karena jembatan ini dibangun menghabiskan ribuan uang Golden Perak milik Belanda tempo itu, kemudian jembatan ini di cat berwarna perak, sehingga ketika terkena sinar matahari dari kejauhan nampak ke perak perakan warnanya. Versi lain mengatakan, dahulu jembatan Gladak Perak dibangun dengan tumba galang perak milik seorang penari ledek yang memiliki paras yang sangat cantik jelita sebagai penolak bala.

Jembatan lama Gladak Perak, selain keindahannya banyak cerita berdarah mewarnai keberadaan jembatan di selatan Jawa.


Kalau kita melihat langsung Jembatan Gladak Perak, maka kita tidak bisa membayangkan bagaimana  proses pembangunannya saat itu, hanya dengan tenaga manusia membelah batu cadas raksasa yang berada ditepi jurang yang teramat dalam. Maka tidak heran, banyak warga pribumi yang tewas terjatuh ke dalam jurang saat melakukan pekerjaan tersebut.

Di sinilah banyak korban rakyat pribumi yang tewas jatuh ke jurang saat membelah batu cadas di ujung jembatan lama ini


Pada masa perang kemerdekaan, jembatan Gladak Perak pernah ledakan oleh Zeni Pioneer 22 Jatiroto, hal ini dilakukan untuk memutus mobilitas tentara Belanda ke arah Pronojiwo. Sampai akhirnya pada tahun 1952, jembatan ini dibangun kembali. Sampai akhirnya pada tahun 2001, jembatan Gladak Perak tidak difungsikan kembali, sebagai gantinya Pemda setempat bersama pemerintah pusat membangun jembatan baru yang berada di sisi selatan jembatan lama Gladak Perak yang digunakan hingga saat ini.

Selain sisi kelam masa pembangunan jembatan Gladak Perak, ternyata jembatan Gladak Perak ini dijadikan tempat pembuangan mayat korban keganasan G30 S PKI. Mayat rakyat yang di sembelih oleh pemberontak PKI banyak dibuang ke dalam jurang jembatan Gladak Perak. Bahkan menurut cerita penduduk setempat tidak sedikit mayat mayat tersebut digantung di atas jembatan tutur Pak Soekaryo (64) yang menjadi saksi hidup sampai saat ini.

Kondisi jembatan Gladak Perak lama yang menunggu uluran tangan kepedulian Pemda setempat.


Pada era tahun 80 an, saat Petrus (Penembak Misterius) merajarela. Jembatan Gladak Perak kembali menjadi pembuangan korban Petrus, bahkan ada beberapa korban yang masih hidup dibuang ke dalam jurang yang sangat dalam itu.

Mitos seram bercampur aroma mistis pun merebak, mulai dari penampakan orang yang tiba tiba melintas di jembatan ini, dan hal ini banyak di alami oleh pengendara yang melintasi jembatan ini. Hal inilah yang menyebabkan banyaknya kejadian kecelakaan.

Menurut penuturan Pak Soekaryo, titik menyeramkan sebenarnya berada di lokasi jembatan lama. “Kalau orang yang melintas sudah kemalaman, mereka memilih menunggu di warung Piket Nol atas yang letaknya berada di ujung Jembatan”, jelas Pak Soekaryo.

Lebih jauh Pak Soekaryo menjelaskan, banyaknya kecelakaan disebabkan kejadian di luar batas nalar manusia.”Mereka yang lewat umumnya banyak memilih menungu sampai waktu gentingnya hilang, yaitu lewat dari pukul 03.00 WIB,” tutur Pak Soekaryo.

Sementara itu antara Jembatan Gladak Perak dengan kawasan Piket Nol, memang tidak bisa dipisahkan. Karena lokasi Jembatan Gladak Perak terletak di kawasan Piket Nol. Dimana dulu kawasan ini menjadi tempat pemeriksaan angkutan yang membawa hasil bumi yang di jaga oleh tentara Kolonial.

Piket Nol merupakan suatu lokasi tempat yang lokasinya termasuk dalam puncak tertingi di jalur selatan Jawa. Dari Piket Nol, apabila cuaca cerah kita bisa melihat pemandangan indah puncak Gunung Semeru, penambangan pasir, hijaunya sawah sawah penduduk Lumajang, bahkan konon kita bisa melihat ujung laut selatan.

Untuk bisa mendapatkan pemandangan yang indah dari Jembatan Gladak Perak atau kawasan Piket Nol, sebaiknya memilih waktu saat langit sedang cerah, baik itu di pagi hari atau sore hari. Hindari melewati jalur ini saat hujan lebat, oleh karena seringnya terjadi longsor di kawasan sekitar jembatan ini yang berada di lereng Semeru. Selain itu, jika belum terbiasa, hindari melalui jembatan atau jalur ini saat malam hari. Selamat berakhir pekan.
close
Banner iklan disini