Terbaru

Petirtaan Jolotundo Peninggalan Prabu Airlangga Adalah Air Zam Zam Kedua di Muka Bumi

 

 
Pemandangan asri dan tenang menuju lokasi pertitaan Jolotundo

Majalah.online (Mojokerto)- Jalanan yang mendaki dengan hutan belantara yang masih asri, ditambah udara sejuk yang jauh hiruk pikuk perkotaan, semakin menambah semangat kami untuk mencapai “taman syurga” yang letaknya kurang lebih 55 kilometer dari kota Surabaya.


Terletak di lereng gunung Penanggungan, tepatnya desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto lokasi pertirtaan Jolotundo banyak diminati para para pengunjung diakhir pekan. Lokasinya mudah dicapai baik dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Hanya saja jika musim kita harus ekstra hati hati, karena jalan yang licin dan kondisi jalan yang berkelok kelok.

Wringin lawang gapura utama menuju lokasi petirtaan Jolotundo


Dalam sejarahnya, Pertirtaan Jolotundo adalah sebuah kisah percintaan dari seorang raja besar di tanah Bali yang bernama Raja Udaya dengan Putri Guna Priya Dharma dari Kediri. Dari perkawinan itu, lahirlah Prabu Airlangga tahun 991 M, hal ini diketahui dari pahatan tahun di dinding pertitaan Jolotundo. Untuk memperingati kelahiran anaknya yang bernama Prabu Airlangga yang kelak menjadi raja besar di Kahuripan, maka Raja Udaya membuat pertitaan Jolotundo ini pada tahun 997 M. Namun ada sumber lain yang mengatakan, kalau Petirtaan Jolotundo adalah lokasi pertapaan Prabu Airlangga ketika mengundurkan sebagai raja Kahuripan.

Di atas tanah seluas 1 hektare dengan panjang 16,85 meter dan lebar 13,52 meter dengan ketinggian 5,2 meter, Pertirtaan Jolotundo dahulu kala menjadi tempat pemandian para petinggi kerajaan Kahuripan pada masa itu. Hal ini diketahui, dari struktur bangunan pertirtaan yang terbuat dari batuan khusus yaitu batu adhesit yang sangat istimewa ditambah dengan ukiran relief yang dibuat dengan tangan tangan terampil kala itu.

Ribuan ikan mujair dengan latar belakang bilik mandi pria.


Pertirtaan Jolotundo memiliki 52 pancuran air yang mengalir dari dalam tanah yang airnya sendiri berasal dari mata air puncak Gunung Penanggungan. Hebatnya, air di sini tidak pernah kering meski kemarau panjang. Betapa hebatnya nenek moyang kita, jauh sebelum orang Barat mengenal pengairan bawah tanah, nenek moyang kita sudah lebih dahulu membuatnya.

Menurut beberapa pengunjung yang sengaja datang ke Petirtaan Jolotundo, umumnya mereka percaya akan khasiat air pertirtaan Jolotundo yang memiliki khasiat sebagai obat segala penyakit.

“Saya sudah beberapa kali datang ke Jolotundo untuk mengambil air, pesanan kakak saya yang sedang sakit. Dan Alhamdulillah, sampai sekarang penyakitnya berangsur angsur membaik,” ungkap Agus (44) warga Surabaya.

“Boleh percaya boleh tidak, tapi saya sendiri meyakini kalau ada khasiat dari air Jolotundo ini, katanya sih air Jolotundo kemurniannya satu level di bawah air zam zam yang ada di Mekkah,” tambah Agus.

Memang rata rata para pengunjung yang datang ke pertirtaan Jolotundo banyak yang melakukan mandi apalagi jika malam purnama, malam Jumat Legi, atau 1 syuro.

Petirtaan Jolotundo peninggalan Raja Udaya menjadi lokasi wisata yang menarik untuk anda keluarga


Beberapa ilmuwan sendiri pernah melakukan riset tentang uji kemurnian air Jolotundo. Ternyata memang benar, kemurnian air dari Jolotundo berada pada posisi kedua setelah air zam zam. Maka pantas saja, jika pernah perusahaan raksasa Aqua Danone ingin membeli mata air dari pertirtaan Jolotundo ini.

Letak posisi lokasi mandi sejak jaman Raja Udaya sampai sekarang tidak pernah berubah dan masih berlaku sampai saat ini, di dinding batu khas bangunan candi itu diberi petunjuk “Pria” di kolam mandi sebelah timur, dan “Wanita” di barat.
close
Banner iklan disini