Terbaru

Awas, Tidur Terlalu Lama di Akhir Pekan Bisa Memicu Stroke

Kebiasaan balas dendam bayar hutang tidur malah berbahaya

Sebaiknya kita menjaga waktu tidur malam secara teratur

Tubuh terasa penat di hari Senin, meski saat akhir pekan sudah tidur lama? Ternyata ini jawabannya. 'Balas dendam' tidur di akhir pekan memang tampak menyenangkan, tapi sejumlah resiko kesehatan mengintai dibalik kebiasaan ini. Mulai dari ancaman stroke, diabetes hingga menurunnya gairah seksual.

Bermalas-malasan di hari libur, menjadi salah satu hal yang paling dinantikan saat akhir pekan tiba. Mulai dari bangun siang, menghabiskan waktu berjam-jam di atas tempat tidur, hingga 'balas dendam' tidur seharian kerap jadi menu wajib setelah satu minggu lelah bekerja. 

Tapi tahukah Anda, jika kebiasaan ini ternyata berbahaya bagi kesehatan.

Penelitian yang dilakukan Cambridge University menemukan fakta, jika stroke bisa dialami oleh mereka yang tidur lebih lama di akhir pekan. Penelitian dipublikasikan dalam jurnal Neurology Reports ini dilakukan selama 9 tahun dengan melibatkan 10.000 responden laki-laki dan perempuan dengan rentang usia 42 hingga 81 tahun.

Di awal penelitian, responden diminta menjawab berapa lama waktu yang mereka habiskan untuk tidur di malam hari. Pertanyaan serupa kemudian diajukan empat tahun kemudian.

Selama masa penelitian, sebanyak 346 responden laki-laki dan perempuan dengan waktu tidur yang terlalu lama mengalami stroke. Temuan ini menunjukkan adanya hubungan erat antara waktu tidur dengan penyakit yang kini menjadi penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia ini.

Penelitian lain dilakukan di Amerika pada 447 responden laki-laki dan perempuan sehat dengan usia 30 hingga 54 tahun. Responden adalah pekerja paruh waktu dan pekerja penuh dengan waktu kerja minimal 25 jam per minggu.

Seperti dilansir New York Times, hasil penelitian menunjukkan responden dengan perbedaan waktu tidur paling lama di hari kerja dan akhir pekan memiliki tingkat kolesterol yang buruk, tingkat gula darah lebih tinggi dan resiko lebih besar mengalami obesitas dibanding dengan responden dengan pola tidur lebih teratur di hari kerja maupun akhir pekan.

Menurut Pakar Tidur Independen, Dr. Neil Stanley, seseorang yang menghabiskan waktu tidur terlalu banyak merupakan indikasi adanya masalah kesehatan. Orang dengan waktu tidur lebih dari 8 jam, 46% memiliki resiko lebih tinggi mengalami stroke. 

Tidur terlalu lama dapat memicu peningkatan inflamasi pada tubuh dan mengganggu sistem kardiovaskular yang berbahaya bagi jantung.

Sementara menurut psikolog sekaligus pakar tidur Susanna Jernelov, balas dendam tidur di akhir pekan akan membuat ritme sirkadian tubuh berantakan dan tubuh dalam kondisi jet-lag. Imbasnya tubuh justru akan merasakan penat dan lelah di hari Senin.

"Membayarnya dengan tidur seharian di akhir pekan justru akan semakin mengancaukan ritme sirkadian. Idealnya, setiap orang harus dapat menjalankan jadwal tidur reguler setiap hari. Tak terkecuali saat akhir pekan tiba".

Tak hanya sekedar mengacaukan ritme tubuh, dalam studi yang dipublikasikan Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism juga mengaitkan kebiasaan tidur seharian di akhir pekan dengan peningkatan resiko diabetes dan penyakit jantung, akibat adanya peningkatan gula dan lemak jahat dalam darah.

Kebiasaan balas dendam di akhir pekan juga dapat membuat kekebalan tubuh terganggu. Tubuh justru merasa lelah dan membutuhkan waktu peregangan yang lebih lama saat bangun. Hal ini biasa disebut sebagai 'sleep drunkenness'.

Ciri-cirinya, biasanya yang bersangkutan akan merasa pusing saat bangun tidur. Tubuh yang lelah setelah tidur berlebihan akan membuat seseorang mudah marah, merusak mood yang selanjutnya akan mempengaruhi gairah seksual seseorang.

Agar terhindar dari resiko ini, Dr. Stanley menyarankan sebaiknya kita menjaga waktu tidur malam secara teratur. Bila pada hari biasa waktu tidur selama 4 atau 5 jam, sebaiknya jangan tidur melebihi waktu rutin tersebut di akhir pekan sebagai kunci untuk tetap sehat.

Oleh : Sri Utami
close
Banner iklan disini