Terbaru

Gaby Murid Global Sevilla School Yang Tewas Tenggelam, Sampai Kini Perkaranya Tak Kunjung Digelar

Gabriella Sheryl Howard, gadis cantik itu pergi dengan sejuta kepedihan di hati kedua orangtua yang mengasihinya.

Takdir memang milik Tuhan, tapi dibalik takdir ada sebab akibat yang menyebabkan ajal menjemput.

Majalah.online (Jakarta) -  Gaby salah seorang murid di sekolah elit Global Sevilla School Puri Indah, Jakarta Barat,  meninggal akibat tenggelam saat mata pelajaran renang sampai kini perkaranya tidak kunjung digelar, hanya permintaan maaf yang diterima pihak keluarga malang dari pihak sekolah.

Gabriella Sheryl Howard, 8 tahun, meninggal karena tenggelam di kolam renang sekolahnya, Global Sevilla School, Kembangan, Jakarta Barat, 17 September 2015 lalu. Saat itu, hari Kamis, sekitar pukul 09.00, bocah kelas III sekolah dasar itu bersama 20 temannya bergegas ke kolam renang sekolah untuk mengikuti mata pelajaran berenang dan tak lama kemudian ia diketahui tenggelam.

Bocah malang ini sempat dibawa ke klinik sekolah sebelum akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Puri Indah, Jakarta Barat. Namun, nyawa Gaby tak bisa diselamatkan.

Setelah jumpa pers di Komnas PA, kedua orang tua korban menggelar aksi damai menuntut keadilan ke Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta.

Berikut ini keterangan yang disampaikan keluarga korban:

Keluarga sudah mengirimkan somasi kepada pihak sekolah sejak November 2015, namun mereka tidak menanggampinya. Lalu kami terus folow up ke penyidik kepolisian, sampai akhirnya makam anak kami (Gaby) harus dibongkar pada Kamis, 14 April 2016, dan jenazah Gaby harus diotopsi secara menyeluruh sebagai syarat agar kasus ini bisa dibawa ke pengadilan.

Sebagai orang tua, awalnya kami tidak tega jenazah anak kami diotopsi. Namun karena syarat untuk memperjuangkan keadilan baginya, kami akhirnya mengizinkan jenazah anak kami diotopsi demi mengungkap kebenaran atas kematiannya, supaya kepergian Gaby bisa menjadi pembelajaran penying di dunia pendidikan, bahwa pihak sekolah dan guru seharusnya sungguh sungguh menjalankan tugas dan kewajiban mereka dengan baik dalam menjaga keselamatan murid selama jam pelajaran sekolah berlangsung.                

Perjuangan kedua orangtua Gaby yang gigih memperjuangan keadilan atas kematian anak tercintanya
Baca:  Lebih Dari Setahun Menunggu, Orangtua Gabriella Howard Menuntut Keadilan
Memang nyawa anak kami tidak bisa kembali lagi, namun kami ingin agar kasus Gaby diusut secara tuntas dan diadili dengan jujur dan seadil adilnya sesuai fakta yang ada tanpa ditutup-tutupi oleh pihak manapun.

Kebenaran harus diungkap untuk mencegah agar kedepannya tidak ada lagi kejadian serupa menimpa murid-murid lainnya. Pihak yang bersalah harus bertanggung jawab secara hukum, khususnya guru olahraga yang diduga lalai dalam menjaga murid hingga membuat muridnya tewas tenggelam.

Hampir setiap orang memiliki anak, dan setiap orang tua tentu paham benar bagaimana besarnya kasih sayang orang tua kepada anak anaknya. Namun tidak semua orang tua pernah merasakan betapa sakitnya ketika mengantar anak ke sekolah dalam kondisi sehat walafiat, namun sekolah mengembalikannya dalam bentuk jenazah hanya dalam waktu kurang dari 2 jam,                       

Kami sebagai orang tua yang sangat menyayangi anak kami, dimana dulu kami mendapatkan Gaby dengan penuh perjuangan ( kami harus berobat ke dokter dan juga berdoa kepada Tuhan ), memang nyawa anak kami tidak bisa kembali lagi, namun kami ingin agar kasus Gaby diusut secara tuntas dan diadili dengan jujur dan seadil2nya sesuai fakta yang ada tanpa ditutup-tutupi oleh pihak manapun.

Kebenaran harus diungkap untuk mencegah agar kedepannya tidak ada lagi kejadian serupa menimpa murid-murid lainnya. Pihak yang bersalah harus bertanggung jawab secara hukum, khususnya gueu olahraga yang diduga lalai dalam menjaga murid hingga membuat muridnya tewas tenggelam.

Kami berharap, dengan terungkapnya kasus Gaby secara hukum, sekolah sekolah dan guru guru dapat menjadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran penting agar mereka bisa lebih berhati hati dalam menjaga murid. Nyawa seorang murid adalah masa depan orang tua, keluarga dan bangsa ini.                       

Saya melihat penyidik polisi telah bekerja maksimal atas kasus Gaby ini, terlihat dari 23 saksi yang telah diambil keterangannya, penyidik pun sudah melakukan otopsi secara menyeluruh, dimana hasil otopsi pun menyatakan Gaby meninggal karena tenggelam. Kami berharap kasus Gaby dapat segera di P21kan dan segera disidangkan, sebab menurut kami berkas dan alat bukti atas kasus Gaby sudah lengkap dan kasusnya sudah lebih dari setahun (sudah hampir 14 bulan).                       

Kami kecewa karena pemilik sekolah tempat Gaby menimba ilmu sampai tewas tenggelam saat pelajaran renang, sampai sekarang guru olahraganya tidak pernah menemui kami untuk minta maaf. Justeru yang meminta maaf kepada kami adalah direktur sekolahnya, dengan pernyataan "Maaf atas musibah yang menimpa anak bapak ibu". Dalam surat permintaan maaf yang ditandatangani oleh direktur sekolah, pihak sekolah minta maaf dengan menyebut kematian Gaby sebagai musibah (bukan kelalaian).

Ditambah lagi dengan berita fitnah yang disebar ketika kami sedang berduka, yang memfitnah Gaby tenggelam karena penyakit epilepsi (berita itu disebar di broadcast BBM dan di TV), kondisi seperti ini sungguh mengecewakan kami. Melihat ketidakadilan itu, kami memutuskam untuk  terus memperjuangkan keadilan bagi anak kami. Bukankah mendapat keadilan merupakan hak asasi setiap manusia ? Kami hanya memperjuangkan hak asasi anak kami agar mendapat keadilan.
close
Banner iklan disini