Terbaru

Lebih Dari Setahun Menunggu, Orangtua Gabriella Howard Menuntut Keadilan

Setahun lebih kasus kematian anak tercinta tak kunjung di gelar perkaranya, orangtua Gabriella Sheryl Howard datangi Komnas Perlindungan Anak

Menjaga anak didik dalam sekolah selama jam belajar adalah kewajiban pihak sekolah

Majalah.online (Jakarta )– Siapa yang tidak sedih kehilangan anak yang dicintai, apalagi sampai harus satu tahun kasusnya tidak kunjung diproses secara hukum. 

Hal ini dialami oleh keluarga Almarhumah Gabriella Sheryl Howard salah seorang murid Sekolah Global Sevilla Puri Indah, Jakarta Barat, yang tewas tenggelam saat pelajaran olah raga renang.

Meski sudah melakukan tuntutan hukum yang dilakukan keluarga malang setahun lebih yang lalu, namun sampai saat ini proses hukum tersebut tidak kunjung digelar.

 “Saya melihat penyidik polisi telah bekerja maksimal atas kasus Gaby (panggilan Gabriella) ini, terlihat dari 23 saksi yang telah diambil keterangannya, penyidik pun sudah melakukan otopsi secara menyeluruh, dimana hasil otopsi pun menyatakan Gaby meninggal karena tenggelam. Kami berharap kasus Gaby dapat segera di P21-kan dan segera disidangkan, sebab menurut kami berkas dan alat bukti atas kasus Gaby sudah lengkap dan kasusnya sudah  lebih dari setahun (sudah hampir 14 bulan),” tutur Verayanti, ibu korban disaat jumpa pers di Komnas Perlindungan Anak di TB Simatupang, Selasa (8/11).

Menurut Vera, sebelumnya, pihak keluarga sudah berusaha melakukan upaya sesuai dengan koridor dan kaidah hukum yang berlaku.  Sejak November 201, atau sekitar dua bulan setelah kejadian mengenaskan tersebut pada 17 September 2015, pihak keluarga Gaby telah mengirimkan somasi ke pihak sekolah, Global Sevilla Puri Indah, Jakarta Barat dimana Gaby menuntut Ilmu.

Namun, kata Vera, yang membuat kecewa keluarga adalah pernyataan pemilik sekolah tempat Gaby tenggelam dan guru olahraganya tidak pernah menemui mereka untuk minta maaf.

“Yang meminta maaf kepada kami adalah direktur sekolahnya, dengan pernyataan "Maaf atas musibah yang menimpa anak bapak ibu" Dalam surat permintaan maaf yang ditandatangani oleh direktur sekolah, pihak sekolah minta maaf dengan menyebut kematian Gaby sebagai musibah (bukan kelalaian),” terangnya.

Melanjutkan upaya untuk mendapat keadilan dan kejelasan atas kematian anak tercintanya, keluarga berupaya untuk melaporkan ke pihak penyidik kepolisian, yang ditindaklanjuti dengan pembongkaran makam Gaby pada Kamis, 14 April 2016.

Meski sejatinya merasa berat, namun mereka harus merelakan jenazah Gaby diotopsi secara menyeluruh sebagai syarat agar kasus ini bisa dibawa ke pengadilan.

“Sebagai orang tua, awalnya kami tidak tega jenazah anak kami diotopsi. Namun karena syarat untuk memperjuangkan keadilan baginya, kami akhirnya mengizinkan jenazah anak kami diotopsi demi mengungkap kebenaran atas kematiannya, supaya kepergian Gaby bisa menjadi pembelajaran penying di dunia pendidikan, bahwa pihak sekolah dan guru seharusnya sungguh-sungguh menjalankan tugas dan kewajiban mereka dengan baik dalam menjaga keselamatan murid selama jam pelajaran sekolah berlangsung,” paparnya.

Kini, setelah hampir 14 bulan, dan semua syarat pemberkasan telah lengkap, keluarga mendesak agar kasus itu disidangkan. Vera meminta agar kasus ini diusut secara tuntas dan diadili dengan jujur dan seadil-adilnya sesuai fakta yang ada tanpa ditutup-tutupi oleh pihak manapun.

Kebenaran, lanjutnya, harus diungkap untuk mencegah agar kedepannya tidak ada lagi kejadian serupa menimpa murid-murid lainnya. Pihak yang bersalah harus bertanggung jawab secara hukum, khususnya guru olahraga yang diduga lalai dalam menjaga murid hingga membuat muridnya tewas tenggelam.
close
Banner iklan disini