Terbaru

Pertemuan OPEC: Sikap Arab Saudi Tentukan Percaturan Ekonomi Dunia

Harga minyak dunia bukan lagi hanya soal ekonomi tetapi sudah menjadi bagian dari permainan politik dan ini hanya bisa dicegah jika terjadi kesepakatan antara Arab Saudi dan Iran. (foto: istimewa)

Wina, Majalah.Online - Pertemuan tahunan negara – negara eksportir minyak yang tergabung dalam OPEC (Organization of Petroleum Exporting Countries) yang dilaksanakan di Wina, Austria pada 30 November 2016 membahas banyak isu penting salah satunya adalah kondisi pasar minyak dunia. 

Pertemuan ini selain dihadiri oleh negara peserta OPEC juga oleh para stakeholder dan perusahaan produsen minyak. Dikatakan bahwa selama satu tahun ini OPEC telah melakukan kesalahan berulang dalam menetapkan harga minyak dunia sehingga membuat kredibilitasnya menjadi berkurang.
Dalam hal ini yang dipertaruhkan bukan hanya masa depan OPEC tetapi juga bagaimana pengaruh Arab Saudi sebagai produsen minyak terbesar dunia pada harga minyak global.

Runtuhnya harga minyak dunia yang dipicu oleh kondisi Arab Saudi sejak dua tahun yang lalu, dimana negara kerajaan ini harus menghadapi persaingan atau perang minyak dengan Iran. Iran akan menjadi ancaman bagi Arab Saudi terutama dalam pasar minyak di Asia.

Di sela-sela acara Forum Energi Internasional di Aljazair pada bulan September yang lalu negara – negara eksportir minyak dan produsen minyak lainnya melakukan pertemuan informal dipimpin oleh Rusia.

Dalam pertemuan itu disepakati bahwa akan dilakukan pemotongan produksi minyak menjadi 32,5-33 juta barel per hari atau mengalami pengurangan sebesar 1,1 juta barel per hari. Kebijakan ini akan efektif diberlakukan pada bulan Januari 2017 mendatang yang bertujuan untuk menstabilkan kembali harga minyak dunia.

Seperti dilansir The Economist selain untuk menguatkan kembali posisi Arab Saudi sebagai penghasil minyak terbesar dunia, kebijakan ini juga diharapkan mampu untuk menyelamatkan kondisi ekonomi Iran, Irak dan Rusia yang bisa runtuh jika ketidakstabilan harga minyak global ini berlangsung terus menerus.

Negara-negara ini hampir mencapai kapasitas yang baik sebagai negara penghasil minyak dunia jadi dengan melakukan pemotongan angka produksi diharapkan mampu membuat mereka bertahan di tengah tidak stabilnya harga minyak dunia sekarang ini. Terlebih bagi Iran yang harus menghadapi ancaman nuklir dengan duduknya Trump sebagai Presiden AS nantinya.

Harga minyak dunia bukan lagi hanya soal ekonomi tetapi sudah menjadi bagian dari permainan politik dan ini hanya bisa dicegah jika terjadi kesepakatan antara Arab Saudi dan Iran.

Jika kedua negara ini mampu mencapai kesepakatan maka sangat mungkin harga minyak dunia akan mengalami peningkatan yang berarti tetapi jika tidak maka justru yang bisa terjadi adalah harga minyak Arab Saudi akan menjadi lebih buruk daripada Iran. Akibatnya adalah pasar minyak dunia akan kehilangan kepercayaan terhadap OPEC.

Akibat lebih lanjut adalah akan hilangnya kepercayaan pelaku pasar minyak global akan kemampuan Arab Saudi dalam menjadi konsensus terhadap masalah minyak dunia. Harga minyak yang rendah akan membuat upaya privatisasi terhadap Aramco Saudi, perusahaan minyak nasional Arab Saudi menjadi lebih sulit.

Sekitar 80%-90% pendapatan Arab Saudi berasal dari sektor minyak sehingga perubahan harga minyak dunia akan sangat mempengaruhi kondisi ekonomi negara ini. Aramco Saudi sendiri saat ini sedang mengalami proses reformasi yang dipimpin oleh Muhammad bin Salman yang merupakan Deputi Putera Mahkota Arab Saudi.

Naskah: Pridiyawati
close
Banner iklan disini