Terbaru

Galih dan Ratna, Pengulangan Cerita Gita Cinta SMA di Generasi Milenial

Salah satu adegan di Film Galih dan Ratna 

Kalau ayah dan ibu kamu lahir di era 70-an pasti mengenal film yang diperankan oleh Yessi Gusman dan Rano Karno. Ya, Gita Cinta dari SMA. Film yang sempat booming di era 80-an ini kembali dikemas sesuai dengan generasi milenial. Mengapa dikemas ulang? Apakah kurang menarik bagi anak muda saat ini? 

Ternyata pertanyaan diatas pun bisa dijawab oleh Galih dan Ratna versi remake. Bisa dibilang, ini merupakan cara terbaik perkenalkan film remaja lawas dengan kemasan baru. Galih sendiri diperankan oleh Refal Hady seakan gunakan formula cowok kalem nan misterius. Sedangkan Ratna oleh Sheryl Sheinafia adalah wanita sangat ceria dan pintar. lantas, keduanya digabung menjadi pasangan remaja yang sangat indah. 

Memang, Lucky Kuswandi sendiri bisa meraciknya sesuai dengan remaja milenial saat ini. Penuh dengan sosial media dan individualisme. Memang, untuk mengenalkan film lawas yang ditonton oleh ibu dan bapak mereka. Terkadang, Lucky harus mengubah sedikit latar belakangnya. Cuma eksekusinya cukup bagus untuk film dengan pemain yang terbilang pemula dan baru di kancah industri perfilman. 

Tetapi, ada satu hal yang sebenarnya bisa terlihat bias. Dimana, Lucky gunakan mix tape alih-alih surat cinta pada era sebelumnya. Mengapa harus gunakan mix tape alias kaset yang dianggap jadul dan tidak diketahui oleh anak milenial sekarang. Bahkan, harusnya diperjelas kembali apa itu Mix Tape dan kaset itu seperti apa. Soalnya, barang seperti itu rasanya bakal mubazir atau jadi tren sesaat. Dimana, pengaruh kuat aplikasi streaming musik dan era digital membuat 

Tetapi, kisah cintanya yang sederhana dan tidak tampak drama murahan, membuat Galih dan Ratna berhasil mengeksekusi penonton. Sumpah, mereka bisa terbawa emosinya oleh kedua pemeran tersebut. Salut terhadap Lucky yang terampil membawa emosi penonton. 

Bisa dibilang, film drama remaja ini sanggup berikan warna di tengah anak milenial yang gemar dengan sosial media sendiri. Apalagi, ini merupakan remake film dari era 70-an. Butuh effort besar untuk perkenalkan film ini ditambah perfilman Indonesia sedang maju-majunya. Setidaknya, peran Sheryl dan Refal tidak begitu mengecewakan sama sekali. 

Oh iya, untuk penilaian film ini, mulai dari 7 untuk cerita dan sinematografi. Sedangkan konfliknya sendiri 6,5. Kayaknya tidak perlu mengulang sebuah kejadian yang pernah terjadi dalam film sebelumnya. Ibaratnya, dikemas ulang dengan versi yang lebih sesuai dengan kondisi generasi saat ini. Supaya mudah menarik animo mereka. Sayang bukan kalau penontonnnya sedikit karena alur cerita begitu mirip. Namanya juga, remake sih tapi setidaknya ada yang mau lestarikan film lawas. 
close
Banner iklan disini