Terbaru

Kisah Hidup Tommy Page (RIP), No More Shoulder to Cry On

Tommy Page. Foto:Sonora.co.id/Naskah:Pridiyawati

Jumat, 3 Maret 2017 dunia dikejutkan dengan berita kematian salah seorang musisi legendaris yang lagu-lagunya sangat terkenal pada tahun 90-an, Tommy Page. Di jagat dunia maya linimasa media sosial juga dipenuhi dengan ucapan bela sungkawa dan keterkejutan para netizen atas kematian sang bintang.

Dan yang paling mengejutkan tentunya adalah rumor yang beredar bahwa Tommy Page meninggal karena bunuh diri di apartemen tempat tinggalnya di New York.
Tommy Page tidak pernah diberitakan menghadapi permasalahan hidup pelik yang bisa menjadi alasan seseorang untuk mengakhiri hidupnya sendiri dengan bunuh diri. Bahkan sampai saat ini meskipun dia tidak produktif lagi sebagai seorang penyanyi tetapi Page tetap berkarir di bidang musik.

Penyanyi berwajah tampan dan imut ini mengawali karir musiknya dengan lagu debutnya berjudul “I’ll Be Your Everything” yang direkam pada April 1990 melalui label Sire Record dan lagu tersebut ternyata mampu menduduki peringkat teratas tangga musik Billboard Hot 100.

Setelah merampungkan pendidikannya di NYU’s Stern School of Business, Page kemudian kembali mengejar karirnya sebagai seorang musisi dengan menorehkan sembilan album rekaman sebagai bukti karir musiknya. Dia selalu berharap bahwa lagu-lagu di dalam albumya bisa kembali merajai tangga lagu Billboard seperti yang diungkapkannya pada 2011 silam.

Pada tahun yang sama Tommy Page bergabung dengan Warner Bros/ Reprise Record sebagai A&R Executive dan wakil presiden bidang promosi lagu-lagu top 40. Selama itu juga Page telah berhasil membantu karir beberapa penyanyi dan musisi dunia kenamaan seperti Alanis Morrisete, David Foster, Michael Bubble, Josh Groban dan Green Day.

Sejak kecil Tommy Page telah menyimpan aspirasi yang besar untuk karir musiknya, bahkan dia sampai menuliskan sebuah kalimat inspiratif untuk memacu semangatnya sendiri pada halaman persembahan dalam buku tahunan seniornya di sekolah saat itu “Aku akan datang di chart Billboard”, dan saat itu dia sangat berharap hal tersebut bisa diwujudkan oleh seorang anak biasa dari Jersey.

Setelah mundur dari Warner Bros di tahun 2011, Page memutuskan untuk bergabung dengan Billboard sebagai associate publisher dan pada tahun berikutnya dia dipromosikan menjadi seorang publisher. Tetapi di tahun 2013, sang bintang memilih hengkang dari Billboard dan kemudian bergabung dengan Pandora. Itu hanya sebagian dari kisah perjalanan hidup musisi yang identik dengan lagu-lagu romantis ini.

Sebagai musisi sesuai dengan mimpinya sejak kecil, seorang Tommy Page tidak pernah berhenti berkarya. Konsernya di Jakarta pada pertengahan 2016 yang lalu bisa menjadi salah satu bukti bahwa Page tidak pernah meninggalkan musik. Bahkan di dalam kicauannya di twitter miliknya bisa dilihat bahwa dia masih tetap berkarya dengan terus menulis lagu.

Twit yang ditulisnya pada bulan Januari yang lalu menunjukkan bahwa dia sedang dalam proses menciptakan lagu baru dan meminta para penggemarnya untuk menantikan karya barunya.

Masih melalui twitternya, Page juga meyakinkan para penggemarnya bahwa dia tidak akan berhenti berkarya, dan twitnya ini direspon oleh para penggemarnya dengan antusias bahkan ada yang memintanya kembali tampil dalam serial televisi Full House, yang sebenarnya juga sudah lama berakhir penayangannya. Mereka tidak sabar untuk bisa menikmati karya musik terbaru dari sang bintang tampan Tommy Page.

Tetapi sekarang semua penggemarnya harus kecewa dan memupus semua harapannya karena tidak akan pernah bisa melihat penampilan idolanya lagi. Bahkan pejabat Billboard dan musisi-musisi dunia seperti Josh Groban merasa sangat berduka atas meninggalnya musisi ini.

Tommy Page yang terkenal dengan lagu “A Shoulder To Cry On” telah berpulang mengakhiri segala drama perjalanan hidup dan karirnya. Selamat jalan Tommy Page, beristirahatlah dengan tenang di sisi-Nya.
close
Banner iklan disini