Terbaru

Wimar Witoelar: Jangan Percaya Pengobaran Kebencian, Mari Merawat Keragaman

Budayawan Wimar Witoelar

Majalah.Online - Hari ini (24/2) kita akan membahas mengenai gejolak yang terjadi di masyarakat kita, yang mungkin belum Anda sadari betapa pentingnya hal ini. Kita akan membahas topik tersebut dengan narasumber Wimar Witoelar. Kami memilih Wimar menjadi pembicara pada topik ini karena kami melihat Wimar memiliki perspektif yang jernih pada tema ini.


Poin-poin dari Perspektif Wimar Witoelar terhadap gonjang-ganjing dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang terjadi saat ini adalah
  1. Peristiwa Gus Dur sedang terulang sekarang karena itu saya sangat mengerti apa yang terjadi. Waktu itu Gus Dur disingkirkan oleh kekuatan politik yang memanfaatkan kebodohan orang.
  2. Dalam Pilkada Jakarta 2017, orang-orang yang mempunyai ambisi politik, yang ingin merebut kekuasaan, dan yang mempunyai uang banyak, memanfaatkan kekurangtahuan orang  sampai menjadi tingkat membenci.
  3. Kalau gonjang-ganjing ini terjadi terus-menerus maka akan susah bagi yang berwenang dan bagi pemerintah untuk menjalankan proyek-proyek untuk kesejahteraan orang.
  4. Gonjing-ganjing itu merugikan kita semua karena kita dibiayai oleh investasi swasta terutama investasi luar negeri.
  5. Jadi jangan percaya pada pengobaran kebencian. Kebencian itu didasarkan atas salah pengertian dan kebodohan. Itu bisa dicegah dengan dimulai dari mencari informasi dari sumber yang terpercaya.
  6. Jika sekarang kita tidak meningkatkan kepedulian terhadap keragaman maka yang akan berbicara adalah orang yang ingin menghancurkan keragaman, yaitu orang-orang yang ingin merusak negara, orang-orang yang ingin memperalat orang-orang bodoh, dan orang-orang yang ingin merebut kekuasaan. Mereka hanya bisa dibendung oleh kecerdasan kita yang tidak disembunyikan dan dinyatakan.
Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Wimar Witoelar. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com   Lewat situs tersebut Anda dapat memberikan komentar dan usulan.
Dalam beberapa hari ini di media massa maupun media sosial, saya banyak melihat dan membaca informasi bahwa banyak yang melakukan aksi menyalakan lilin keragaman dan persatuan, namun kegiatan ini dihadang bahkan diganggu oleh sekelompok massa sehingga terjadi gesekan yang begitu keras di masyarakat. Apa yang sesungguhnya sedang terjadi di masyarakat kita saat ini?

Saya kira yang terjadi adalah salah pengertian antara kelompok-kelompok yang terluka perasaannya atau mungkin juga yang mendukung Gubernur petahana DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terluka setelah Ahok diadili dan dihukum selama dua tahun. Sedangkan pihak yang memang mengalahkan Ahok agak terluka perasaannya karena sepertinya kemenangan mereka di Pilkada tidak dihargai, dan mereka dianggap sebagai orang yang melakukan tekanan.

Pada dasarnya itu dilandasi oleh dua kelompok orang yang dari dulu tidak begitu nyaman satu sama lain dan tidak percaya satu sama lain, sehingga dalam Pilkada ini ketidakpercayaan itu dipertebal dan dimanfaatkan dengan dijadikan pengobaran kebencian. Jadi bukan hanya membuat tidak nyaman tetapi juga membuat kebencian.

Mengapa faktor kebencian ini bisa menjadi gesekan yang keras?

Itu karena adanya ketidaknyamanan atau kebencian yang diperalat oleh orang-orang yang mempunyai modal, yang mempunyai ambisi kekuasaan dan yang senang melihat adanya perpecahan di kalangan masyarakat, dimana mereka berharap bisa tampil nantinya untuk mengambil hasil dari perpecahan itu terutama dengan mengambil alih pimpinan. Mereka sudah berhasil dalam mengambil alih pimpinan di DKI dan mereka sekarang menuju pada pengambil-alihan kursi presiden.

Mengapa masyarakat kita sekarang ini mudah terhanyut oleh isu suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA) tersebut?

Saya kira Anda dan saya bisa bertanya ke kiri dan kanan, mengapa kemarin banyak orang memberikan suara kepada lawannya Ahok? Padahal Ahok dikenal membawa DKI ke dalam kemajuan dengan membuat transportasi publik, membuat kesejahteraan sosial meningkat, dan 76% penduduk Jakarta menganggap Ahok berhasil. Namun di balik penghargaan atas keberhasilan itu ada perasaan yang lebih kuat, yaitu agak curiga karena Ahok ini, istilahnya, bukan orang asli Indonesia.

Mereka juga berpikir bahwa karena Ahok non muslim, sehingga yang awalnya mereka tidak terlalu memikirkan hal itu tetapi akhirnya terhasut oleh pihak yang mengatakan bahwa orang muslim harus memilih pimpinan yang beragama muslim juga, atau orang hanya bisa memilih pemimpin yang seagama. Itu menggunakan kaidah agama yang berlaku dalam sistem hukum agama. Di Indonesia sebetulnya dari zaman dulu orang memilih juga pemimpin yang berbeda agama dan itu tidak menjadi masalah.

Yang mempertajam dalam isu Ahok sebetulnya adalah itu berhasil menimbulkan iri, tetapi yang utama adalah orang-orang yang ambisius dan memiliki uang memang menyebarkan kebencian.
Kita melihat ada pawai atau aksi dengan ratusan ribu orang beberapa kali, yang dibiayai dan dihasut oleh orang-orang yang berambisi politik.

Kalau dulu memang ada orang dari kelompok-kelompok yang mempunyai pendapat yang keras melakukan gangguan dimana-mana, tetapi itu cepat ditindak dan tidak menjadi aksi massa. Mengapa itu pada hari-hari ini di Jakarta bisa ratusan ribu orang membanjiri jalan, padahal itu tidak pernah terjadi sebelumnya? Hal itu karena seluruh uang hasil korupsi itu ditumpahkan untuk mendukung kampanye anti Ahok.

Isu SARA yang terjadi dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) Jakarta telah menyingkirkan orang baik yaitu Ahok, yang mempunyai kinerja baik. Saya jadi teringat beberapa tahun lalu, ketika saya menjadi wartawan, Presiden K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang merupakan tokoh dan pejuang pluralis, disingkirkan juga dengan cara-cara menyebarkan isu kebencian. Mengapa setelah sekian lama isu ini kembali muncul dan mengapa dulu Gus Dur bisa juga disingkirkan?

Peristiwa Gus Dur sedang terulang sekarang karena itu saya sangat mengerti apa yang terjadi. Waktu itu Gus Dur pun disingkirkan oleh kekuatan politik yang memanfaatkan kebodohan orang. Setelah Gus Dur jatuh semua menyesal dan sampai sekarang Gus Dur dianggap orang baik dan tuduhan-tuduhan terhadapnya pun hilang.

Dalam kampanye Pilkada Jakarta 2017, orang-orang yang mempunyai ambisi politik, yang ingin merebut kekuasaan, dan yang mempunyai uang banyak, memanfaatkan kekurangtahuan orang  sampai menjadi tingkat membenci, misalnya orang muslim menjadi membenci orang Cina. Padahal seumur hidup kita berdampingan dengan berbagai agama, berdampingan dengan orang-orang Tionghoa tidak pernah ada ledakan kecuali pada saat-saat tertentu. Keganasan anti Cina itu pernah terjadi sebelumnya yaitu pada Mei 1998, itu bisa dihitung dan terbukti bahwa setiap ada kejadian kerusuhan anti Cina semuanya dibiayai oleh ambisi politik.

Tidak ada orang yang secara spontan mengatakan, “Ayo kita keroyok orang Cina.” Kalau pun ada itu sangat kecil, melibatkan belasan orang, dan sudah ditangkap oleh polisi. Orang yang tidak begitu nyaman dengan suku atau agama lain adalah wajar. Wajar saja bila orang tidak mau anak puteri mereka menikah dengan orang dari suku lain, itu tidak apa-apa dan itu adalah pilihan orang. Yang menjadi masalah adalah bahwa itu dikobarkan menjadi kebencian.

Apa dampaknya jika isu yang mengobarkan kebencian ini terus berlangsung bagi kehidupan kita sebagai orang biasa, baik dalam bermasyarakat maupun bernegara? Ini karena saya melihat beberapa rekan saya berpendapat, “Ah biarkan saja, yang berseteru adalah dua kelompok itu, yang penting saya tetap bekerja atau saya tetap kuliah.” Bagaimana pandangan Anda terhadap hal ini?

Pertanyaan yang baik karena hal-hal yang jelek itu lama-lama akan berdampak ke semua orang. Ada yang terkena dampak langsung dan tidak langsung. Mungkin Ahok terkena dampak langsung. Mungkin orang Tionghoa ada yang terkena dampak kemudian, mungkin juga tidak. Yang terakhir aman mungkin orang Jawa, Islam dan mayoritas tidak terkena dampaknya, tapi lama-lama juga akan terkena dampaknya.

Kalau kita melihat gerakan sepihak yaitu gerakan keras di Afghanistan, Iran, dan Pakistan, lama-lama semua orang juga terkena dampaknya. Orang Pakistan yang Islam dan asli Pakistan harus mencari suaka atau dikucilkan, atau bahkan dibantai di negaranya sendiri.

Jadi kalau ada segolongan teman-teman se-Indonesia terancam, maka kita semua juga akan terancam. Selain itu kalau gonjang-ganjing ini terjadi terus-menerus akan susah bagi yang berwenang dan bagi pemerintah untuk menjalankan proyek-proyek untuk kesejahteraan orang. Proyek transportasi seperti MRT, proyek pendidikan sekolah, kesehatan, dan lain-lain, semua bisa berjalan kalau semua tenang. Kalau semua tidak tenang dan curiga, itu semua tidak akan jalan. Menurut pengalaman saya, sekarang ini kita sudah lumayan dalam hal kesejahteraan sosial, banyak hal-hal baru, tapi itu serta merta bisa hilang.

Lalu mengapa gonjing-ganjing itu merugikan kita semua? Itu karena kita dibiayai oleh investasi swasta terutama investasi luar negeri. Semua bank di Indonesia milik luar negeri. Mengapa itu terjadi? Itu ada dalam sejarah, tapi saat ini semua bank di Indonesia itu adalah milik luar negeri seperti CIMB Niaga, Maybank, dan sebagainya kecuali bank BUMN seperti BRI dan Bank Mandiri.

Banyak orang yang menggunakan ATM dari bank, kartu kredit, dan sebagainya. Hal itu berarti orang sudah hidup dan tergantung pada perbankan, tapi semua itu akan hilang kalau isu dan gejala seperti sekarang terus dibiarkan. Orang-orang yang berhaluan keras tidak setuju dengan hal-hal itu dan ketidaksetujuannya itu didorong oleh orang-orang yang mempunyai modal dan kekuasaan, yang sebetulnya adalah orang yang setuju juga sistem kapitalis tetapi ingin mengusahakan segala cara, untuk tujuan utamanya adalah menjatuhkan pemerintah.

Setelah pemerintah jatuh, maka mereka akan mengambilnya dan belum tentu mereka  menginginkan kesejahteraan karena ada yang di-supply oleh uang luar negeri yang menginginkan kerusuhan. Uang luar negeri itu ada yang menginginkan kerusuhan, ada yang membantu pembangunan, jadi rumit dan memang susah dimengerti. Tapi kalau tidak bisa mengerti, paling tidak jangan percaya pada pengobaran kebencian.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai orang biasa untuk mencegah isu kebencian ini terus menyebar?

Kebencian itu didasarkan atas salah pengertian dan kebodohan. Misalnya, kalau ada orang yang tampangnya beda lalu kita menganggapnya berbahaya, atau kebodohan bahwa kita menganggap kalau ada banyak buruh Cina bekerja di proyek kita dan dia akan mengambil alih. Padahal orang yang bertampang lain dengan kita justru ke sini untuk bekerja dan mendatangkan penghasilan tambahan buat kita, jadi justru harus dilindungi.

Kalau ada buruh Cina keliling karena membantu proyek pelabuhan atau kereta api dimana itu diharapkan dapat memperluas jalan-jalan, pelabuhan, kereta api, dan infrastruktur di Indonesia dengan bantuan investasi asing antara lain dari Cina tersebut, tapi ada juga dari Jerman dan Inggris.

Kita harus selalu ingat satu hal bahwa di setiap masyarakat itu ada orang yang bodoh dan ada orang yang pintar. Sebetulnya bukan orang bodoh tetapi adalah orang yang ketinggalan informasi dan orang yang kelebihan informasi. Itu sangat mungkin dan sangat berbahaya kalau orang yang kurang informasi dikerjai dan dibohongi oleh orang yang kelebihan informasi.

Pemimpin politik yang ingin mengganti kekuasaan semuanya adalah orang pintar, tetapi mereka tidak akan bisa mengganti kekuasaan dengan cara biasa karena ada konstitusi. Jadi mereka peralat orang-orang yang kurang tahu dengan dikompori dan dibuat panas dengan isu bahwa “Kamu ini hidupnya susah karena bisnis dikuasai Cina.” Padahal koruptor terbesar itu bukanlah orang Cina melainkan orang-orang yang hidup dari uang negara dan dari penguasaan atas daerah. Kebodohan dan ketidaktahuan orang itulah yang mudah sekali dimanfaatkan untuk menimbulkan keirian.

Jadi kalau Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, “Ini ada jurang kaya dan miskin.” Itu betul tetapi ujung-ujungnya dia menyalahkan orang Tionghoa. Jadi kita harus hati-hati terhadap orang yang menimbukan keresahan dan kekhawatiran pada suatu masalah, yang ujung-ujungnya hanya ingin membenarkan golongannya sendiri.

Bagaimana cara kita menyaring informasi agar berita yang kita dapat bukanlah berita yang mengadu domba atau berita hoax dan sebagainya?

Sama dengan orang yang menyaring teman-teman dan menyaring makanan, pada akhirnya mereka mengetahui sendiri mana makanan yang sehat dan mana makanan yang tidak, mana teman yang baik dan mana teman yang tidak. Orang yang terbawa oleh teman yang tidak baik karena dia kurang mempunyai keyakinan terhadap pendapatnya.

Jadi, pertama, harus ada inti pendapat, lalu menyaring informasi berdasarkan keyakinannya. Kalau kedengaran teoritis, mungkin informasi bisa dimulai dari sumber yang terpercaya. Saya  juga menyediakan diri untuk memberikan informasi yang benar bagi orang yang ragu-ragu.

Bagaimana caranya dan melalui apa, Bung Wimar?

Kesatu adalah dengan wawancara ini. Kedua, dengan menyambut setiap kesempatan dimana orang meminta pendapat saya. Bila saya diminta bicara dimana pun, saya akan berbicara menjelaskan ini semua dan saya akan mengalihkan seluruh kegiatan saya kepada penyebaran berita-berita baik dan berita benar karena sebetulnya kebaikan di Indonesia masih lebih banyak dari keburukan, hanya saja kebaikannya kurang tersebar.

Jadi saya menyumbang dengan menyediakan diri untuk bicara dengan banyak orang. Kalau memakai istilah resminya yaitu melakukan sosialisasi atau melakukan desiminasi informasi.  Kalau Anda ragu maka bertanyalah kepada saya, atau Perspektif Baru, atau orang-orang yang saya kenal. Bila Anda tidak kenal saya, saya bisa memberikan pilihan. Banyak sekali berita yang baik di internet dan toko buku, tetapi sayang itu kurang didatangi.

Orang boleh hidup gembira, berekreasi, dan sebagainya, tapi jangan lupa bahwa kecerdasan Anda  tetap harus berkembang karena dari kecerdasan membuat Anda mempunyai dunia yang cerah,  produktif, dan asik. Kalau tidak seperti itu, kita semua akan menjadi orang bodoh dan sangat sengsara, apalagi kalau mikir anak dan sebagainya. Lebih enak menjadi orang yang cerdas daripada orang yang bodoh.

Mengapa pada saat ini kita sebagai orang biasa harus meningkatkan kepedulian terhadap keberagaman?

Kalau kita tidak meningkatkan kepedulian maka yang akan berbicara adalah orang yang ingin menghancurkan keragaman, yaitu orang-orang yang ingin merusak negara, orang-orang yang ingin memperalat orang-orang bodoh, dan orang-orang yang ingin merebut kekuasaan. Mereka hanya bisa dibendung oleh kecerdasan kita yang tidak disembunyikan dan dinyatakan. Jadi kalau kita tidak melakukan perlawanan dengan akal sehat maka kita akan tenggelam.
Yayasan Perspektif Baru bekerjasama dengan Yayasan Konrad Adenauer memproduksi program PERSPEKTIF BARU, dimuat sebagai sindikasi empat koran se-Indonesia, yaitu Duta Masyarakat Surabaya, Harian Jogja, B Magazine dan Harian Pagi Siwalima. rimanews.com, majalah online.

Naskah ini merupakan transkrip wawancara radio yang disiarkan sindikasi ratusan stasion radio melalui Jaringan Radio KBR 68 H, Jaringan Radio Antero NAD, Bravo FM Palangkaraya, Gemaya FM Balikpapan, Metro RGM Purwokerto, Global FM Bali, Lesitta FM Bengkulu, Maya Pesona FM Mataram, Pahla Budi Sakti Serang, Poliyama FM Gorontalo, BQ 99 FM Balikpapan, Gita Lestari Bitung, Dino FM Samarinda, Genius FM Pare-Pare, Civica FM Gorontalo, Shallom FM Tobelo Maluku Utara, Marss FM Garut, Sangkakala FM Banjarmasin, M83 FM Kutai Kartanegara, RPFM Kebumen, BFM Bangka Belitung, Sehati FM Bengkulu, , BPKB FM Gorontalo, Suara Pangaba Balikpapan, RDP Kutim,Citra FM, Hulontalo FM, Suara Celebes FM.

PERSPEKTIF BARU ONLINE: www.perspektifbaru.com                  
E-mail: yayasan@perspektifbaru.com                   
Hak cipta pada Yayasan Perspektif Baru, faks. (021) 722-9994, telp. (021) 727-90028 (hunting)
close
Banner iklan disini